Hukum Membunuh Cicak

Telah shahih dalam hadis-hadis Nabi shallallahu’alaihi wasallam perintah untuk membunuh cicak, sebagaimana dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dan selainnya.
Dalam Shahih Bukhari (1831), Dari Aisyah radhiyallahu’anha bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyebut cicak sebagai fuwaisiq (hewan fasiq yang hina).
Dan juga masih dalam Shahih Bukhari (3307) dari hadis Ummi Syarik radhiyallahu’anha:

«أن النبي صلى الله عليه وسلم أمرها بقتل الأوزاغ»

Artinya: bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam menyuruhnya untuk membunuh cicak.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (2237) dan beliau meletakkannya dibawah bab: “Anjuran/Sunatnya membunuh cicak”.

Dalam memberikan syarah hadis ini, Ibnul-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadh Sholihin (6/692) berkata: “Sudah sepantasnya seorang muslim untuk mencari cicak dirumahnya, dipasar atau dimasjid, untuk dibunuh”.

Adapun hikmah dari sunatnya membunuh cicak ini adalah:

Pertama: Karena cicaklah yang meniup api (agar semakin berkobar) membakar jasad Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tatkala dilemparkan oleh Raja Namrud kedalam kobaran api, padahal semua hewan serangga lainnya berusaha untuk mematikan api tersebut. Sebagaimana dalam Musnad Ahmad (24534) dan Sunan Ibnu Majah (3231).
Ini juga ada Shahih Bukhari (3359) dari hadis Ummi Syarik juga bahwa beliau memerintahkan membunuh cicak dan berkata:

كان ينفخ على إبراهيم عليه السلام

Artinya: “Dahulu ia (cicak) meniup api (agar semakin berkobar) membakar jasad Nabi Ibrahim ‘alaihimussalam”.

Mungkin kita akan bertanya kenapa cicak sekarang yang sunat dibunuh padahal yang menzalimi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah cicak yang lain? Al-‘Allaamah Al-Syarwani dalam Hasyiah Tuhfah Al-Minhaj (9/383) menjawab hal ini: “Kehinaan jenis hewan ini (dan sunatnya dibunuh) merupakan bentuk penghargaan kita terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam”.
Juga dijawab dengan jawaban poin kedua berikut:

Kedua: Bahwasanya cicak merupakan jenis hewan yang sangat mengganggu dan memberikan mudharat terhadap manusia, tidak hanya dengan suaranya yang usil namun juga dengan berbagai tingkah lakunya, dan adanya racun dari mulutnya, hampir sama dengan tikus. Sebab itu Nabi menjuluki keduanya dengan nama “Fuwaisiqah” (Hewan fasiq yang hina) yang berarti ia merupakan jenis hewan serangga yang fasiq atau keluar dari tabiat asli serangga yang biasanya tidak terlalu berbahaya. Adapun cicak, maka ia merupakan diantara hewan serangga yang sangat memberikan mudharat. (Lihat: Syarah Muslim oleh Imam Nawawi: 14/237).

Apakah membunuhnya berpahala??
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim (2240) dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

«من قتل وزغا في أول ضربة كتبت له مائة حسنة، وفي الثانية دون ذلك، وفي الثالثة دون ذلك»

Artinya: “Barangsiapa membunuh cicak dengan pukulan pertama maka ditulis baginya 100 pahala kebaikan, bila dengan pukulan kedua maka pahalanya kurang dari itu, dan bila dengan pukulan ketiga maka pahalanya kurang dari itu”.

Kenapa semakin banyak memukulnya pahalanya semakin berkurang?
Imam Nawawi (Syar Shahih Muslim 14/236) berkata: “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah memerintahkan untuk membunuhnya (cicak), juga memotivasi kita untuk membunuhnya, karena ia merupakan jenis hewan yang menyakiti/mengganggu manusia, adapun alasan banyaknya pahala ketika membunuhnya dengan satu kali pukulan, dan pahalanya berkurang bila lebih dari satu pukulan, adalah bahwa tujuannya motivasi untuk segera membunuhnya dan lebih serius untuk membunuhnya. Adapun motivasi agar dibunuh dalam pukulan pertama maka maksudnya adalah bila ia ingin memukulnya dengan beberapa pukulan, mungkin saja ia bisa melarikan diri sehingga tidak bisa dibunuh”. lihat juga (Ikmal Mu’lim 7/173) oleh Imam Qadhi ‘Iyadh.

Mungkin salah satu alasannya adalah bahwa dalam islam kita disuruh untuk membunuh hewan atau orang dengan sebaik-baiknya cara pembunuhan tanpa menganiaya dan membuatnya terlalu lama menahan sakit, sebagaimana dalam hadis: “Sesungguhnya Allah menetapkan supaya berbuat baik terhadap segala sesuatu. Apabila kamu membunuh, bunuhlah dengan baik.. (HR Muslim:1955 ).
Wallaahu a’lam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*