Lalat, Mukjizat dan Rahmat Allah

0
102

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah rabbil ‘alamin, wal ‘aaqibatu lil muttaqin, wa laa ‘udwaana illa ‘aladzolimin. Asyhadu alla ilaaha illallah wa anna Muhammadan rasulullah. Sholawaatu rabbi wa salaamuhu ‘alaih wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’iin.

Segala puji bagi Allah yang mengutus para Nabi dan RasulNya kepada setiap ummat di waktu dan tempat yang berbeda-beda untuk menjelaskan keesaan Allah dan kewajiban manusia untuk taat dan tunduk kepadaNya. Dia pulalah yang memperjalankan kepada para Nabi dan RasulNya segala ketidakmungkinan dan kemustahilan di mata manusia berupa mukjizat dan karamah untuk menolong dan menguatkan hambaNya yang beriman kepadaNya lahir dan batin serta menunjukkan ketidakberdayaan musuh-musuhNya di hadapan mukjizat-mukjizat tersebut. Tak heran bila kita membaca sejarah para Nabi dan Rasul Allah, akan kita temukan berbagai hal yang menakjubkan mengalahkan nalar dan pemikiran manusia-yang saat ini disebut-sebut sebagai Tuhan bagi mereka yang tak percaya akan keberadaan Allah-. Sebut saja selamatnya Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam dari kobaran api panas yang disulut oleh bala pasukan kuffar yang menguasai negeri saat itu, atau berubahnya tongkat Nabiyullah Musa ‘alaihissalam menjadi seekor ular besar yang meluluhlantahkan sihir yang dihembuskan oleh para penyihir fir’aun, atau kemampuan Nabiyullah ‘Isa ‘alaihissalam untuk menghidupkan orang-orang yang telah meninggal dan menyembuhkan penyakit buta yang diderita masyarakatnya. Beranjak kepada Nabi dan Rasul ummat ini, sangat banyak keajaiban yang terjadi yang tak mungkin kita sebut satu persatu. . Namun kali ini kita akan membahas sekitar mukjizat terbesar yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ialah wahyu dan firman Allah, Alquran Alkarim.

Tak ada beda pendapat antara kita semua bahwa Alquran adalah mukjizat terbesar yang Allah turunkan kepada ummat Rasulullah, bahkan kepada seluruh alam. Ialah perkataan yang berat sebagaimana firman Allah ta’ala :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1) قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

Artinya : Hai orang yang berselimut, bangunlah untuk sholat di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu seperduanya atau kurangilah sedikit dari seperdua itu, ata lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Alquran dengan tartil, Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.

Ibn Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa ada 2 pendapat ulama mengenai makna perkataan yang berat. Pendapat pertama bahwa perkataan/Alquran itu disifati berat karena pengamalannya yang berat sebagaimana diriwayatkan dari Alhasan dan Qatadah. Sedangkan pendapat kedua bahwa makna dari berat disini adalah proses turunnya Alquran yang terasa amat berat bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radiyallahu ‘anha bahwa keadaan terberat bagi Rasulullah ketika wahyu turun kepadanya bila ia datang seperti gemerincingan bunyi bel.

Menurut imamul mufassirin Ibn jarir At-tobary rahimahullah bahwa makna beratnya Alquran mencakup kedua hal diatas . Beratnya beban pengamalan dan tanggungjawab Alquran ini yang menjadikan gunung-gunung tak sanggup memikulnya karena takut, bahkan hancur berkeping seandainya diberikan kepada salah satu makhluk Allah yang amatlah besar ini(bila dibandingkan dengan manusia). Allah berfirman :

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya : Kalau sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.

Awal mula turunnya Alquran menjadi moment yang takkan terlupakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala ia bertahannuts dengan Allah ta’ala di gua hira, beliau disentakkan dengan datangnya makhluk agung yaitu malaikat jibril yang menyampaikan wahyu Allah kepada beliau. Dengan berjalannya waktu kemuliaan dan keagungan Alquran yang merupakan mukjizat Rasulullah semakin jelas, salah satunya tatkala Allah menantang orang-orang kuffar qurays untuk mendatangkan yang semisalnya, maka mereka tak mampu meski telah saling tolong menolong diantara mereka. Allah berfirman :

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِين

Artinya : Dan jika kamu tetap berada dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hambaKu(Muhammad), maka buatlah satu surat saja yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Meski demikian, sunnatullah akan tetap berjalan dan takkan tergantikan. Tetap saja ada dari ummat beliau yang tetap pada kekufuran dan kemusyrikannya kepada Allah, sedang hujjah mereka tak berguna dihadapan firman Allah subhanahu wa ta’ala sebab mereka tahu sendiri kebenaran wahyu Allah yang diturunkan dengan bahasa arab ini, bahasa mereka sendiri. Maka tak ada jalan lain kecuali mencela dan mencemarkan nama baik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan mengatakan bahwa beliau adalah tukang sihir, orang yang tak waras, dan sebutan-sebutan yang lainnya. Padahal Allah sendiri di dalam Alquran telah mensucikan beliau dan syariat yang beliau emban sebagai Nabi dan Rasul Allah ta’ala. Allah ‘azza wa jalla berfirman di dalam surah An-najm :

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Artinya : Demi bintang ketika terbenam, kawanmu(Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tidaklah yang diucapkannya itu(Al-Quran) berdasarkan kemauan hawa nafsunya, Ucapannya itu tiada lain merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Secara kontekstual, petikan beberapa ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah berbicara tentang sesuatu melainkan apa yang beliau katakan adalah sebuah kebenaran. Ibn katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwa makna kalimat مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى pada kata ضَلَّ bermakna seorang yang meniti sebuah jalan tanpa didasari ilmu pengetahuan atau biasa kita sebut sebagai orang yang tersesat. Sedangkan kata غَوَى bermakna seorang yang memiliki ilmu pengetahuan namun tak mengikutinya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat ini mensucikan beliau dan syariatnya dari segala bentuk kesesatan dan kejahilan sebagaimana terjadi pada ummat yahudi dan nashrani.

عن عبد الله بن عمرو قال: كنت أكتب كل شيء أسمعه من رسول الله صلى الله عليه وسلم أريد حفظه، فنهتني
قريش فقالوا: إنك تكتب كل شيء تسمعه من رسول الله، ورسول الله صلى الله عليه وسلم بشر، يتكلم في الغضب. فأمسكتُ عن الكتاب، فذكرت ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: “اكتب، فوالذي نفسي بيده، ما خرج مني إلا حق”.

Diriwayatkan dari Abdullah ibn ‘amr radiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata “dahulu aku menulis setiap perkataan yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan hendak menghapalnya, sampai suatu hari beberapa orang quraiys melarangku dan berkata kepadaku “kamu menulis semua yang dikatakan oleh Rasulullah padahal beliau adalah manusia biasa yang bisa jadi berbicara sesuatu karena marahnya”, maka akupun berhenti dari kebiasaanku sampai aku menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perihal ini maka beliau bersabda : “tulislah, demi dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah sebuah perkataan keluar dariku melainkan kebenaran”.

Jika demikian, maka setiap sabda dan perkataan beliau(yang benar penyandarannya kepada beliau) adalah kebenaran yang datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Kebenaran yang hingga saat ini masih terus memunculkan decak kagum dari para ahli sains dan teknologi serta seluruh bidang keilmuan yang telah membuktikannya langsung lewat penelitian mereka, bagaimana mungkin seorang yang hidup 14 abad silam mengetahui apa yang terjadi atau baru diketahui saat sekarang melalui serangkaian penelitian dengan alat canggih yang baru ada di zaman ini??? Pertanyaan demi pertanyaan serta kebingungan terus mengalir di pikiran mereka, seandainya mereka yakin dan beriman terhadap apa yang beliau bawa berupa risalah islam adalah kebenaran maka kebingungan itu akan segera berubah menjadi hentakan iman yang mengewejentah dalam qolbu mereka.
Sebut saja sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abu hurairah radiyallahu ‘anhu berikut yang merupakan bukti kebenaran risalah dan wahyu yang diturunkan kepadanya :

عن أبي هريرة رضي الله عنه يقول : قال النبي صلى الله عليه و سلم ( إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينزعه فإن في إحدى جناحيه داء والأخرى شفاء ).

Makna kosa kata hadits :
– الذباب : Adalah nama untuk sebagian besar jenis hewan yang tergolong serangga yang memiliki sayap. Diantaranya adalah hewan lalat. Berkata Ibn battal : Hewan ini dikatakan Dzubaban, karena setiap kali ia diusir karena kotornya mereka tetap kembali.
– شراب : Segala jenis minuman cair.
– فليغمسه : Hendaknya hewan tersebut dicelup/ditenggelamkan seluruhnya.
– لينزعه : Lalu mengeluarkannya dari minuman tersebut.
– جناحيه : Kedua sayapnya.
– داء : Penyakit, maksudnya bahwa pada salah satu sayap lalat terdapat hal yang dapat menyebabkan penyakit.
– شفاء : Kesembuhan, maksudnya bahwa pada salah satu sayap lalat yang lainnya terdapat hal yang dapat menjadi penawar dari penyakit itu.

Makna hadits :

Artinya : Dari Abu hurairah radiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Apabila seekor lalat jatuh dalam minuman seseorang dari kalian maka hendaknya ia celupkan lalat tersebut lalu mengeluarkannya dari minumannya, karena di salah satu sayapnya terdapat penyakit dan yang lainnya terdapat penawarnya”.

Di dalam riwayat abu dawud terdapat tambahan lafadz “dan lalat itu melindungi dirinya dengan menggunakan sayap yang terdapat penyakit padanya”. Dan tambahan lafadz ini diriwayatkan melalui sanad yang hasan.

Beberapa pelajaran penting dari hadits ini :

1. Hadits ini menunjukkan bahwa lalat bukan merupakan hewan yang mengandung najis baik ia hidup ataupun mati. Karena itu minuman dan makanan yang ia hinggapi tidak menjadi najis. Para ulama juga mengkiyaskan sucinya lalat kepada hewan-hewan serangga lainnya yang tak memiliki darah yang mengalir, dan makanan atau minuman yang mereka hinggapi tidak menjadi najis. Karena najisnya sesuatu disebabkan oleh darah yang penuh dengan kotoran yang mengalir setelah hewan tertentu mati, dan sebab ini tidak terdapat pada hewan-hewan yang tak memiliki darah yang mengalir seperti lalat, lebah, nyamuk dan yang lainnya.

2. Disunnahkan untuk mencelup/menenggelamkan lalat yang hinggap di minuman kita lalu mengeluarkannya kembali, dengan tetap meminum minuman tersebut karena ia tidak berubah menjadi najis atau kotor. Adapun bila benda yang ia hinggapi adalah makanan, maka para ulama rahimahumullah menganjurkan untuk mengeluarkannya dan bagian makanan yang ia hinggapi, karena mudhorat yang dibawa lalat itu tidak menyebar ke seluruh makanan sebagaimana pada minuman.

3. Bahwasanya pada salah satu sayap lalat membawa penyakit dan yang lainnya membawa penawarnya. Maka bila ia jatuh dalam minuman, ia akan mengangkat sayap yang terdapat penawar penyakit dan melindungi dirinya dari minuman itu dengan menggunakan sayap yang membawa penyakit agar ia tetap memiliki perisai lainnya(sayap yang satunya) yang Allah ciptakan untuknya. Hadits ini menunjukkan betapa syariat Allah membawa hikmah dan rahmat yang begitu besar kepada ummatnya tatkala kita dianjurkan untuk menenggelamkan lalat yang jatuh ke dalam minuman kita agar penawar yang terdapat pada sayap yang satunya bisa ikut tercampur dan menghilangkan mudhorat yang dibawa oleh lalat tersebut. Adapun perbuatan sebagian manusia dengan membuang minuman yang telah dihinggapi lalat, maka ini sangat jauh dari hikmah dan tuntunan islam serta pemborosan pada harta yang dimiliki. Sebab islam datang sebagai solusi dan rahmat bagi seluruh alam di waktu dan tempat yang berbeda-beda. Boleh jadi pada sebuah masyarakat atau waktu tertentu sebuah minuman dinilai mahal atau sangat berharga bagi mereka, maka membuang minuman tersebut karena telah dihinggapi lalat merupakan kerugian besar tentunya dan menyalahi tuntunan agama ini.

4. Hadits ini merupakan salah satu bukti mukjizat sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab ilmu sains saat ini yang dilakukan oleh Tim Departemen Mikrobiologi Medis, Fakultas Sains, Universitas Qashim, Kerajaan Arab Saudi, beberapa peneliti muda yang terdiri dari, Sami Ibrahim at-Taili, ‘Adil ‘Abdurrahman al-Misnid, dan Khalid Dza’ar al-Utaibi yang dibimbing oleh Dr. Jamal Hamid, dan dikoordinasi oleh DR. Shalih ash-Shalih (seorang da’i terkenal di Eropa), melakukan penelitian tentang analisa mikrobiologi tentang sayap lalat. Dan telah membuktikan kebenaran hadits ini bahwa pada salah satu sayap seekor lalat terdapat penyakit sedang di sayap yang lainnya terdapat penawar yang dapat menghilangkan pengaruh penyakit tersebut. Laporan ini mereka presentasikan ke acara “Student Research Seminar” di Universitas Qashim, KSA.

Sekian, semoga bermanfaat.
Abu Aqilah Althofunnisa.

Footnote:
1. Surah Al muzzammil 1-5.
2. Tafsir ibn katsir 8/251.
3. HR Bukhari 1/4 no.2.
4. Tafsir at-tobary 23/682.
5. Surah Al hasyr 21.
6. Surah Al baqarah 23.
7. Surah An najm 1-4.
8. Tafsir ibn katsir 7/442-443.
9. HR Ahmad 2/162, dan Abu dawud no.3646.
10. Hadits shohih riwayat Bukhari 3/1206 no.3142, dan Abu dawud 3/430 no.3846.
11. Taudihul ahkam 1/148.
12. Sebagaimana tambahan lafadz yang diriwayatkan oleh Abu dawud rahimahullah.
13. Ringkasan dari kitab taudihul ahkam syarah bulugil maram 1/148-149.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here