Seri Faedah Bulugh al Maram – Kitab as Shiyam (13)

Halaqah ke-13

#Bulughul_Maram

#Kitab_Puasa

Hukum berbekam bagi yang puasa

Hadits nomor 665, 666, & 667

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhuma ia berkata

أَنَّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ، وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ. رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

“Bahwa Nabi ﷺ berbekam sementara beliau sedang berihram dan berbekam dalam keadaan berpuasa.” HR. Al-Bukhari.

Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi ﷺ mendatangi seseorang yang sedang berbekam di Baqi’ pada bulan ramadhan. Beliau ﷺ bersabda

أفْطَرَ الحَاجِمُ وَالمَحْجُومُ. رَوَاهُ الخَمْسَةُ إِلاَّ التِّرْمِذِيَّ، وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ.

“Batal puasa orang yang membekam dan yang dibekam.”
HR. Imam yang lima selain At-Tirmidzi (Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad) dan dishahihkan oleh Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu ia berkata :

أَوَّلُ مَا كُرِهَتِ الحِجَامَةُ لِلصَّائِمِ؛ أنَّ جَعْفَرَ بْنَ أبِي طَالِبٍ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَمَرَّ بِهِ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-، فَقَالَ: أفْطَرَ هَذَانِ، ثُمَّ رَخَّصَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- بعْدُ فِي الحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ؛ وَكَانَ أنَسٌ يَحْتَجِمُ وَهُوَ صَائِمٌ. رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَقَوَّاهُ.

“Pada awalnya berbekam itu makruh untuk orang yang berpuasa. Ja’far bin Abu Thalib berbekam padahal ia sedang berpuasa, lantas ia berpapasan dengan Nabi ﷺ dan bersabda “Puasa kedua orang ini sudah batal.” Kemudian Nabi ﷺ membolehkan berbekam bagi orang yang berpuasa. Dan Anas juga pernah berbekam sementara ia sedang berpuasa.”
HR. Ad-Daruquthni dan beliau menguatkan hadits ini.

Derajat hadits :

Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu shahih diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1938) dari jalan Wuhaib dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu. Juga diriwayatkan di (1939) dari jalan Abdul Warits dari Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu.

Adapun hadits Syaddad Radhiyallahu’anhu diriwayatkan oleh Abu Daud (2369) dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra (3/319) dan Ibnu Majah (1681) dan Ahmad (28/230) dan Ibnu Hibban (3534), semuanya dari jalan Abu Qilabah dari Abu Al-Asy’ats dari Syaddad Radhiyallahu’anhu. Dan diriwayatkan Ibnu Majah (1680) dari jalan Abu Qilabah dari Abu Asma’ dari Tsauban Radhiyallahu’anhu. Hadits ini dalam sanadnya perbedaan pendapat tapi kebanyakan ulama menshahihkannya diantara Al-Bukhari, Ibnu Al-Madini, Ad-Darimi, Al-Uqayli, An-Nawawi dll.

Adapun hadits Anas Radhiyallahu’anhu diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni (2/182) dari jalan Khalid bin Makhlad dari Abdullah bin Al-Mutsanna dari Tsabit Al-Bunani dari Anas Radhiyallahu’anhu. Hadits ini dhaif karena :
– Tidak dikenal dalam kitab-kitab hadits dan tidak ada yang mengetahui perawinya kecuali Ad-Daruquthni.
– Khalid bin Makhlad dan Abdullah bin Al-Mutsanna walaupun perawi dalam Shahih Al-Bukhari tapi beberapa ulama hadits menjarh mereka berdua.
– Dalam matannya (teks hadits) ada munkar (menyelisihi yang shahih) karena Ja’far bin Abu Thalib Radhiyallahu’anhu terbunuh saat perang Mu’tah (sebelum tahun penaklukkan kota Makkah), sedangkan kisah hadits ini terjadi pada tahun penaklukkan kota Makkah yaitu setelah terbunuhnya Ja’far.

Pembahasan hadits :

1. Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu dalil bolehnya bekam bagi orang yang berpuasa dan tidak mempengaruhi puasanya. Ini pendapat jumhur ulama.
Hadits Syaddad Radhiyallahu’anhu dalil bahwa bekam membatalkan puasa karena mengeluarkan darah orang yang dibekam dapat melemahkan fisiknya, adapun yang melakukan bekam juga batal karena dahulu bekam dilakukan dengan cara mengisap darah dengan mulut. Ini pendapat Ahmad dan pendapat yang dipilih oleh Syeikhul Islam dan muridnya Ibnul Qayyim.
Pendapat yg kuat -wallahu a’lam- adalah pendapat jumhur ulama dan bahwa berbekam pada awalnya membatalkan puasa tapi hukum itu terhapuskan sebagaimana hadits Abu Said Radhiyallahu’anhu yang shahih riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah :

رخص رسول الله ﷺ في القبلة للصائم ورخص في الحجامة

“Rasulullah ﷺ memberikan keringana mencium istri bagi yang berpuasa dan memberikan keringanan untuk berbekam.”

2. Bagaimana dengan donor darah?
Puasanya tidak batal, baik darah yang keluar banyak atau sedikit sebagaimana pendapat bolehnya berbekam diatas.

3. Bagaimana dengan luka yang berdarah? Tidak membatalkan puasa, baik darahnya keluar sedikit atau banyak karena darah tersebut tidak keluar dengan sengaja, karena hukum asal puasanya sah selama tidak ada dalil yang menunjukkan batalnya. Wallahu a’lam.

✒️ Abul Qasim Ayyub Soebandi
(Mahasiswa Fakultas Hadits, Islamic University of Madinah, Saudi Arabia)
_________________
Silahkan baca halaqah sebelumnya di sini :

Home

Mau dapatkan pesan seperti ini?
Add Ayyub Soebandi di Facebook atau Inbox nama dan daerah asal ke +966501548236 di WhatsApp

Sebarkan…!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*