Seri Faedah Bulugh al Maram – Kitab as Shiyam (14)

Halaqah ke-14

#Bulughul_Maram

#Kitab_Puasa

Hukum memakai celak saat berpuasa

Hadits nomor 668

Dari Aisyah Radhiyallahu’anha ia berkata :

“أَنَّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- اكْتَحَلَ فِي رَمَضَانَ، وَهُوَ صَائِمٌ”. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ، وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: لاَ يَصِحُّ فِي هَذا البَابِ شَيءٌ

“Bahwa Nabi ﷺ memakai celak dan beliau sedang berpuasa di bulan ramadhan.
HR. Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif.
At-Tirmidzi berkata “Tidak ada satupun hadits yang shahih dalam bab ini (bercelak saat puasa).”

Derajat hadits :

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1678) dari jalan Baqiyah bin Al-Walid, dari Az-Zubaidi, dari Hisyam bin Urwah, dari Bapaknya, dari Aisyah Radhiyallahu’anha.
Hadits ini dhaif karena di dalamnya ada Az-Zubaidi yaitu Said bin Abdul Jabbar Az-Zubaidi Al-Himshi yang disepekati kedhaifan periwayatannya, apalagi Baqiyah meriwayatkan darinya dengan bersendiri.
Seperti perkataan At-Tirmidzi bahwa tidak ada hadits yang shahih dalam masalah bercelak saat puasa, baik itu anjuran atau larangan.

Penjelasan hadits :

1. Ulama berbeda pendapat tentang hukum bercelak saat puasa menjadi dua pendapat :

– Orang berpuasa tidak boleh memakai celak karena membatalkan puasa. Ini pendapat Ahmad

– Boleh bercelak dan tidak mempengaruhi puasa. Ini pendapat Hanafiyah dan Syafi’iyyah dan dirajihkan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pendapat ini yang kuat kerena tidak ada hadits yang tsabit dalam masalah ini, juga secara asal puasa itu sah kecuali jika ada dalil yang shahih dan jelas akan batalnya.

2. Celak bukanlah pembatal puasa walaupun punya rasa karena bukan termasuk makanan dan minuman.

3. Mata bukanlah saluran makanan yang menyebabkan batalnya puasa jika ada sesuatu yang masuk ke dalamnya.

4. Celak digunakan oleh banyak orang di masa itu, sedangkan sesuatu yang digunakan atau dilakukan kebanyakan orang dan hukumnya terlarang maka pasti akan disampaikan oleh Rasulullah ﷺ. Maka ketika Rasulullah ﷺ tidak menjelaskannya menunjukkan bahwa memakainya tidak mempengaruhi puasa.

5. Diqiyaskan dengan celak hukum memakai obat tetes mata, begitu juga dengan obat tetes telinga. Adapun obat tetes hidung bisa membatalkan puasa jika masuk ke dalam tenggorokan karena rongga hidung bersambung ke lambung, juga berdasarkan hadits shahih

وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائما

“Bersungguh-sungguhlah ketika istinsyaq (menghirup air ke hidung saat berwudhu) kecuali ketika berpuasa”

✒️ Abul Qasim Ayyub Soebandi
(Mahasiswa Fakultas Hadits, Islamic University of Madinah, Saudi Arabia)
_________________
Silahkan baca halaqah sebelumnya di sini :

Home

Mau dapatkan pesan seperti ini?
Add Ayyub Soebandi di Facebook atau Inbox nama dan daerah asal ke +966501548236 di WhatsApp

Sebarkan…!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*