Seri Faedah Bulugh al Maram – Kitab as Shiyam (17)

0
13

Halaqah ke-17

#Bulughul_Maram

#Kitab_Puasa

Hukum puasa saat melakukan safar (perjalanan)

Hadits nomor 671, 672, 673

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhuma ia berkata

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِي رَمَضَانَ, فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ, فَصَامَ النَّاسُ, ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ, حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ, ثُمَّ شَرِبَ, فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ: إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ. قَالَ: «أُولَئِكَ الْعُصَاةُ, أُولَئِكَ الْعُصَاةُ».
وَفِي لَفْظٍ: فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ النَّاسَ قَدْ شَقَّ عَلَيْهِمُ الصِّيَامُ, وَإِنَّمَا يَنْظُرُونَ فِيمَا فَعَلْتَ، فَدَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَشَرِبَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Bahwa Rasulullah ﷺ keluar pada tahun penaklukan Makkah di bulan ramadhan. Beliau berpuasa hingga sampai di tempat bernama Kuraa’ul Ghamim dan rombongan sahabat ikut berpuasa bersama beliau ﷺ. Kemudian beliau ﷺ meminta segelas air dan mengangkatnya hingga para sahabat melihat beliau ﷺ meminun air itu. Maka dikatakan kepada beliau ﷺ setelah itu bahwa masih ada sebagian orang yang berpuasa. Beliau ﷺ bersabda “Mereka itu orang yang durhaka, mereka itu orang yang durhaka.”
Dalam lafadz lain disebutkan “Dikatakan kepada beliau ﷺ bahwa sebagian orang kesulitan menjalankan puasa dan mereka menunggu apa yang dilakukan. Maka setelah shalat ashar beliau meminta segelas air lalu meneguknya.” HR. Muslim

Dari Hamzah bin Amr Al-Aslami Radhiyallahu’anhu, ia berkata :

يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَجِدُ بِي قُوَّةً عَلَى الصِّيَامِ فِي السَّفَرِ, فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – «هِيَ رُخْصَةٌ مِنَ اللَّهِ, فَمَنْ أَخَذَ بِهَا فَحَسَنٌ, وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Ya Rasulullah, aku merasa kuat berpuasa dalam menempuh perjalanan, apakah boleh aku berpuasa?” Rasulullah ﷺ menjawab “Bolehnya berbuka puasa merupakan rukhsah (keringanan) yang diberikan Allah ﷻ. Barangsiapa melaksanakan rukhsah tersebut maka itu adalah baik, dan bagi yang tetap melanjutkan puasanya maka tidaklah mengapa.” HR. Muslim
Asal hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah Radhiyallahu’anha bahwa Hamzah bin Amr Radhiyallahu’anhu bertanya kepadanya ﷺ.

Derajat Hadits :

Hadits Jabir Radhiyallahu’anhu diriwayatkan oleh Muslim (1114) dari jalan Abdul Wahab bin Abdul Majid, dari Ja’far, dari Bapaknya, dari Jabir Radhiyallahu’anhu. Adapun riwayat kedua, dari jalan Abdul Aziz Ad-Darawardi, dari Ja’far dengan sanad yang tadi.

Adapun hadits Hamzah bin Amr Radhiyallahu’anhu, diriwayatkan oleh Muslim (1121) dari jalan Ibnu Wahb, dari Amr bin Al-Harits, dari Al-Aswad, dari Urwah bin Az-Zubair, dari Abu Murawih, dari Hamzah bin Amr Radhiyallahu’anhu.

Adapun hadits Aisyah, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1932 & 1933) dan Muslim (1121) dari jalan Hisyam bin Urwah, dari bapaknya, dari Aisyah Radhiyallahu’anha ia berkata, Hamzah bin Amr bertanyakepada Rasulullah ﷺ tentang puasa saat bersafar. Beliau ﷺ bersabda “Jika engkau mau maka berpuasalah, jika engkau mau berbukalah.”

Penjelasan hadits :

1. Kuraa’ Al-Gamim adalah gunung yang panjang di jalan antara Makkah dan Madinah yang berjarak 63 KM dari Makkah.

2. Dalil bahwa orang yang berpuasa saat safar terserah baginya mau melanjutkan puasanya atau tidak. Ini madzhab jumhur ulama. Adapun Abu Daud Az-Dzahiri mengatakan wajib berbuka bagi orang yang melakukan safar akan tetapi pendapat jumhur lebih kuat.

3. Perkataan Rasulullah ﷺ bersabda “Mereka itu orang yang durhaka, mereka itu orang yang durhaka.” Maksudnya adalah beliau ﷺ mengatakan itu kepada orang yang menyelisihi perintahnya untuk berbuka, dimana saat itu melanjutkan puasa memang memberatkan para sahabat maka tidak dipungkiri bahwa berbuka saat itu lebih dianjurkan dan menyelisihinya dikategorikan durhaka.

4. Manakah yang lebih afdhal, melanjutkan puasa atau berbuka saat safar? Ulama berbeda pendapat :
– Abu Hanifah dan As-Syafi’i mengatakan berpuasa lebih afdhal jika tidak kesulitan dan tidak ada membahayakan. Karena inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan lebih cepat melepaskan kewajiban.
– Ahmad mengatakan berbuka puasa lebih afdhal walaupun tidak ada kesulitan. Berdalilkan hadits diatas dimana berbuka adalah rukhsah dari Allah ﷻ yang Allah ﷻ suka jika rukhsahnya dilaksanakan.
– Umar bin Abdul Aziz, Mujahid, Qatadah dan Ibnu Al-Mundzir mengatakan bahwa yang paling afdhal adalah yang lebih mudah. Maka barangsiapa yang berbuka lebih mudah baginya maka berbuka lebih afdhal baginya. Demikian sebaliknya. Pendapat ini yang kuat karena mengumpulkan semua dalil.

5. Bolehnya berbuka puasa saat safar tidak memandang jauh dekatnya jarak perjalanan, dia sopir atau bukan, memakai mobil, pesawat dll karena semua jenis perjalanan pasti ada kesulitan di dalamnya, walaupun memakai fasilitas paling canggih sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ

السفر قطعة من العذاب

“Safar adalah bagian dari adzab” (Muttafaqun Alaih)

✒️ Abul Qasim Ayyub Soebandi
(Mahasiswa Fakultas Hadits, Islamic University of Madinah, Saudi Arabia)
_________________
Silahkan baca halaqah sebelumnya di sini :

Home

Mau dapatkan pesan seperti ini?
Add Ayyub Soebandi di Facebook atau Inbox nama dan daerah asal ke +966501548236 di WhatsApp

Sebarkan…!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here