Seri Faedah Bulugh al Maram – Kitab as Shiyam (19)

0
25

Halaqah ke-19

#Bulughul_Maram

#Kitab_Puasa

Hukum hubungan suami istri bagi orang yang berpuasa di siang ramadhan

Hadits nomor 676

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu ia berkata

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: هَلَكْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: «وَمَا أَهْلَكَكَ؟» قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ، فَقَالَ: «هَلْ تَجِدُ مَا تَعْتِقُ رَقَبَةً?» قَالَ: لَا. قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ؟» قَالَ: لَا. قَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّينَ مِسْكِينًا؟» قَالَ: لَا, ثُمَّ جَلَسَ, فَأُتِي النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ. فَقَالَ: «تَصَدَّقْ بِهَذَا» , فَقَالَ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنَّا؟ فَمَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا, فَضَحِكَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: «اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ». رَوَاهُ السَّبْعَةُ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.

“Seorang datang kepada Nabi ﷺ dan berkata “celakahlah aku ya Rasulullah!”
Rasulullah ﷺ bertanya “mengapa engkau celaka?”
Ia menjawab “aku berhubungan badan dengan istriku pada siang hari bulan ramadhan”
beliau ﷺ bertanya “apakah kamu mampu untuk memerdekakan seorang budak?”
Ia menjawab “tidak”
beliau ﷺ bertanya lagi “apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”
Ia menjawab “tidak”
beliau ﷺ bertanya lagi apakah kamu sanggup memberi makan 60 orang miskin?”
Ia menjawab “tidak”
Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata “kemudian orang tersebut duduk dan Nabi ﷺ memberi sekarung kurma seraya bersabda “sedekankanlah kurma ini”
Ia berkata “apakah aku sedekahkan kepada orang yang lebih fakir dari kami? Di kampung kami tidak ada yang lebih miskin daripada keluargaku.”
Nabi ﷺ tertawa hingga kelihatan gigi taringnya. Kemudian berkata “pergilah dan berikanlah kurma ini kepada keluargamu”
HR. Imam yang tujuh (Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad) dan lafadz ini dalam riwayat Muslim.

Derajat Hadits :

Hadits ini Shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1936), Muslim (1111), Abu Daud (2390), At-Tirmidzi (724), An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra (3/311), Ibnu Majah (1671), Ahmad (11/533) semuanya dari jalan Az-Zuhri, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu

Abu Daud meriwayatkan dari jalan Hisyam bin Sa’ad, dari Az-Zuhri, dari Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dengan tambahan lafadz

وصم يوما واستغفر الله

“Dan berpuasalah sehari (qadha) dan beristighfarlah”

Tapi lafadz ini tidak dianggap karena Hisyam bin Sa’ad statusnya “Shaduq lahu auhaam” dan menyelisihi para perawi yang Tsiqah dimana mereka semua tidak meriwayatkan lafadz ini.

Penjelasan hadits :

1. Dalil besarnya dosa berhubungan suami istri bagi orang yang berpuasa di siang hari ramadhan.

2. Bagi yang terjatuh dalam dosa ini, baginya kaffarah berikut dengan sesuai urutannya :
A. Memerdekakan budak
B. Jika tidak mampu maka berpuasa 2 bulan berturut-turut. Jika diselangi sehari maka harus mengulanginya dari awal lagi. Kecuali jika ada udzur seperti sakit.
C. Jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin.

3. Kaffarat ini khusus bagi yang bercampur di bulan puasa saja, adapun orang yang bercampur saat mengqadha puasanya di luar ramadhan maka puasanya batal dan tidak wajib kaffarat.

4. Boleh memakan makanan kaffarah diri sendiri atau memberikannya kepada keluarga jika kesulitan, dengan syarat makanan itu berasal dari pemberian orang lain. Adapun jika dari harta sendiri maka harus diberikan pada yang berhak dan tidak boleh memakannya.

5. Orang yang bercampur karena lupa tidak ada kaffarah baginya.

6. Seseorang yang melakukan sesuatu dan tidak tahu akibat dari perbiatannya agar menanyakannya kepada orang yang berilmu. Orang dalam hadits ini tahu hukum perbuatannya tapi tidak tahu ganjarannya. Dan bolehnya mengabarkan apa yang terjadi dalam rumah tangga untuk mengetahui hukumnya

7. Apakah si istri juga wajib kaffarah? Ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan kaffarah hanya bagi suami, pendapat lain mengatakan jika istri rela dengan perbuatannya maka baginya kaffarah namun jika terpaksa dan tidak rela maka tidak ada kaffarah baginya.

8. Apakah wajib mengqadha puasa yang batal pada saat bercampur?
Ulama juga berbeda pendapat. Jumhur ulama mengatakan harus mengqadha puasanya. Pendapat lain mengatakan tidak wajib berdasarkan karena riwayat yang mengatakan mengqadha tidak kuat. Akan tetapi menggantinya lebih dekat kepada kehati-hatian wallahu a’lam.

9. Dianjurkannya lemah lembut terhadap murid atau orang yang datang bertanya. Banyak lagi faedah lainnya bahkan Al-Hafidz Al-Iraqi mengumpulkan dan membukukan faedah dalam hadits ini dan mencapai lebih 1000 faedah.

✒️ Abul Qasim Ayyub Soebandi
(Mahasiswa Fakultas Hadits, Islamic University of Madinah, Saudi Arabia)
_________________
Silahkan baca halaqah sebelumnya di sini :

Home

Mau dapatkan pesan seperti ini?
Add Ayyub Soebandi di Facebook atau Inbox nama dan daerah asal ke +966501548236 di WhatsApp

Sebarkan…!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here