Seri Faedah Bulugh al Maram – Kitab Haji (55)

Halaqah ke-55

#Bulughul_Maram 

#Kitab_Haji

#Bab_sifat_ibadah_haji_dan_memasuki_kota_makkah

A. Hukum mencium hajar aswad.

750. Dari Umar -radhiyallahu’anhu- 

أَنَّهُ قَبَّلَ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ فَقَالَ: إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ, وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. 

Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak membahayakan dan tidak memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menciummu, aku tidak akan menciummu. (Muttafaqun’alaihi)

Pelajaran hadits :

1. Disyariatkannya mencium hajar aswad jika mudah dan tidak boleh berdesak-desakan apalagi saling menyakiti karena menciumnya sunnah dan menjaga hak saudara kita (tidak menyakiti) adalah wajib.

2. Maksud dari mencium hajar aswad adalah mengikuti sunnah. Dan keutamaannya sebagai mana yang disampaikan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa ia adalah batu yang turun dari Syurga yang lebih putih dari susu, akan tetapi berubah hitam karena dosa anak cucu Adam yang menciumnya. Oleh karenanya tidak ada batu yang disyariatkan dicium selainnya.

3. Hajar aswad tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat kepada siapapun.

4. Keutamaan Umar dan kegigihan beliau dalam menjaga tauhid dan mengamalkan sunnah.

B. Syariat mencium hajar aswad memakai tongkat atau selainnya.

751. Dari Abu At-Thufail -radhiyallahu’anhu- ia berkata

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَيَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ مَعَهُ, وَيُقْبِّلُ الْمِحْجَنَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ. 

Aku melihat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tawaf di Ka’bah, beliau menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat yang dibawanya dan mencium tongkat tersebut. (HR. Muslim)

Pelajaran hadits :

1. Barangsiapa yang yang tidak mampu mencium hajar aswad maka boleh menyentuhnya kemudian mencium tanyanya.

2. Jika tidak mampu dengan tangannya maka dengan tongkatnya atau selainnya kemudian mencium tongkat itu.

3. Jika tidak mampu juga maka cukup isyarat dengan mengangkat tangan tanpa mencium tangannya.

C. Hukum Itthiba’ ketika tawaf. 

752. Dari Ya’la bin Umayyah -radhiyallahu’anhu- ia berkata 

طَافَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – مُضْطَبِعًا بِبُرْدٍ  أَخْضَرَ. رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ. 

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- thowaf berselendangkan kain hijau. (HR. Imam Lima kecuali Nasa’i, dan dinilai shahih oleh Tirmidzi).

Pelajaran hadits :

1. Dianjurkan Itthiba’ yaitu membuka pundak kanan dan memasukkan kain ihram ke ketiak kanan kemudian ujungnya dinaikkan di pundak sebelah kiri ketika tawaf untuk laki-laki.

2. Bolehnya memakai kain ihram yang berwarna bagi laki-laki tetapi warna putih lebih afdhal karena keumuman hadits yang memerintahkan memakai pakaian putih.

3. Perintah Rasulullah tetap dikedepankan dari apa yang beliau contohkan.

D. Syariat bertalbiyah dan bertakbir ketika menuju Arafah.

753. Dari Anas -radhiyallahu’anhu- ia berkata :

كَانَ يُهِلُّ مِنَّا الْمُهِلُّ فَلَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ, وَيُكَبِّرُ مِنَّا الْمُكَبِّرُ فَلَا يُنْكِرُ عَلَيْهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Di antara kami ada yang bertalbiyah dan tidak ada yang melarangnya, dan ada yang membaca takbir dan tidak ada yang melarangnya. (Muttafaqun’alaihi).

Pelajaran hadits :

1. Disunnahkan bertalbiyah di hari arafah dan boleh juga bertakbir.

2. Hendaknya sebantiasa bertalbiyah dan bertakbir sampai melempar jumrah aqabah.

3. Dalil bahwa sahabat tidak akan diam ketika melihat kemungkaran atau menyelisihi sunnah.

4. Hal-hal yang didiamkan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah sunnah.

Wallahu a’lam.

✒️ Abul Qasim Ayyub Soebandi
_________________
Baca halaqah sebelumnya di sini :
http://markazassunnah.net

Mau dapatkan pesan seperti ini?
Add Ayyub Soebandi di Facebook atau Inbox nama dan daerah asal ke +966501548236 di WhatsApp
_________________
Mari bergabung di Grup WA Belajar Islam Intensif (BII) dengan materi harian :
1. Penjelasan Kitabul Adab Shahih Al-Bukhari oleh Ustadz Muhammad Yusran Anshar.
2. Penjelasan Kitab Bulughul Maram (Kumpulan Hadits Hukum-hukum) oleh Ustadz Abul Qasim Ayyub Soebandi.
3. Penjelasan Kitab Al-Khulashah Al-Bahiyyah (Sejarah Nabi ﷺ) oleh Ustadz Abu Abdirrazzaq Marzuki Umar.
4. Bimbingan Keluarga Sakinah oleh Ustadz Muhammad Qasim Saguni.
5. Tanya Jawab oleh Ustadz Abu Shofwan Maulana La Eda.

Caranya :
Ketik BII#Nama#L/P#Daerah 
Kirim via WhatsApp ke:
? +628113940090

Sebarkan…!

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*