Tambahan Doa “Rabbi Ighfir Li” ketika Mengucapkan “Aamiin”

Dalam beberapa buku tuntunan shalat, banyak kita dapati adanya doa yang disebut sebagai doa yang sunat dipanjatkan tatkala sebelum atau setelah mengucapkan “aamiin”. Doa tersebut adalah “Rabbi ighfir li” atau “Allaahumma ighfir li”. Doa ini juga disebutkan oleh beberapa ahli fiqh, seperti dua imam madzhab syafi’iyah muta-akhirin yaitu Ibnu Hajar Al-Haitami (Tuhfatul-Muhtaaj: 2/49) dan Ibnu Al-Ramli (Nihayah Al-Muhtaaj: 1/489), mereka berdua secara khusus menyebutkan bahwa hadis ini derajatnya “hasan” yang artinya bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam beribadah.

Untuk mencari kejelasan apakah hadis tentang doa “Rabbi ighfir li aamiin” ini memang hadis shahih atau hasan, atau dhoif, maka berikut pemaparan tentangnya, selamat membaca:

Redaksi Hadis:

عن وائل بن حجر أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم حين قال ﴿غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ﴾, قال: “رب اغفر لي, آمين

Artinya: “Dari Waa-il bin Hujr bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika selesai mengucapkan “Ghairil-maghdhuubi ‘alaihim waladh-dholliin”, beliau membaca “Rabbi ighfir li, aamiin”.

Yang Meriwayatkan Hadis Dengan Lafadz Ini Beserta Jalurnya

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Thabarani dalam Mu’jam Kabir (22/42 no.207) dan Imam Baihaqi dalam Sunan Kubra (2/84 no.2450), keduanya dari jalur Ahmad bin Abdul-Jabbaar Al-Uthaaridi, dari ayahnya, dari Abu Bakr Al-Nahsyali, dari Abu Ishaq Al-Sabi’i, dari Abdullah Al-Yahshubi, dari Waa-il bin Hujr, dari Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dengan redaksi yang disebutkan diatas.

Penjelasan Shahih Tidaknya Jalur Ini

Meneliti sanad hadis ini, kita mendapati bahwa para perawinya antara tsiqah dan shoduq. Kecuali ada satu rawi yang dhaif, yaitu: Ahmad bin Abdul-Jabbar Al-‘Utharidi, sebagaimana dalam Al-Taqrib (no.64).
Hafidz Al-Haitsami dalam kitabnya Al-Majma’ Al-Zawaa-id (2/113) telah mengkritik sanad hadis ini dengan keberadaan Ahmad bin Abdul-Jabbar ini seraya menyatakan: “Dalam sanad hadis ini terdapat rawi Ahmad bin Abdul-Jabbar Al-‘Utharidi: ia dinilai tsiqah oleh Al-Daruquthni, diberikan pujian oleh Abu Kuraib, namun dinilai dhoif oleh banyak ulama, Ibnu Adi berkata tentangnya: “Saya tidak mendapati ada hadisnya yang munkar (menyelisihi perawi lain)”.
Hal ini dipertegas lagi oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Kitab “Ashli Shifat Shalaat Al-Nabi” (1/382).

Namun, mungkin pernyataan Al-Haitsami yang menukil bahwa Al-Daruquthni, Abu Kuraib, bahkan Ibnu Adi tidak menilai Ahmad bin Abdul-Jabbar ini sebagai rawi yang dhoif bisa saja dijadikan oleh beberapa ulama diantaranya Ibnu Hajar Al-Haitami dan Ibnu Al-Ramli yang kita sebutkan diatas untuk menilai hadis ini sebagai hadis hasan. Nah, untuk menilai derajat Ahmad bin Abdul-Jabbar yang benar dari sisi Jarh wa Ta’dil. Maka kita akan menukilkan komentar para ulama secara ringkas dari Tahdzib Al-Kamaal (1/379-382), darinya kita bisa menyimpulkan derajatnya yang sesungguhnya:

Ulama Yang Menilainya Tsiqah/Shoduq:
1.Al-Sarri bin Yahya berkata: Ia tsiqah.
2.Al-Daruquthni: “La Ba’sa bihi, Abu Kuraib telah memujinya”.
3.Al-Khathib Al-Baghdadi menyatakan bahwa ia shoduq.
4.Ibnu Adi: “Saya tidak mendapati ada hadisnya yang munkar (menyelisihi perawi lain), ia dinilai dhoif karena tidak bertemu dengan orang yang ia riwayatkan hadisnya”.

Ulama Yang Menilainya Dhoif:
1.Abu Hatim: “Laisa Bi Qawiy” (Ia tidak kuat hafalannya). (Jarh Wa Ta’dil: 1/62).
2.Ibnu Abi Hatim: “Saya telah menulis hadis darinya, namun saya tidak meriwayatkan hadisnya kepada orang-orang lantaran banyaknya ulama yang mengkritik (menilai dhoif derajatnya)”.
3.Muhammad Al-Hadhrami: “Dulu ia berdusta”.
4.Abu Ahmad Al-Hakim: “Ia tidak kuat hafalannya menurut mereka (ahli hadis), dan hadisnya ditinggalkan oleh Ibnu ‘Uqdah… dan ia meriwayatkan dari siapapun tanpa peduli (tsiqah atau dhoif)”.
5.Ulama hadis Iraq tidak meriwayatkan darinya karena menilainya dhoif.

Dari sebagian ucapan ulama ini, maka kita menyimpulkan bahwa sebab utama ia dinilai dhoif adalah:
-Ia berdusta, namun ini telah disangkal oleh Al-Khathib, bahwa ia tidaklah terbukti berdusta atas hadis Nabi.
-Bahwa ia meriwayatkan dari siapapun tanpa peduli tsiqah atau dhoif. Namun ini juga telah dibantah oleh Al-Khathib bahwa ini bukanlah hal yang bisa menyebabkan dhoif-nya seorang rawi.
-Tidak kuat hafalannya. Inilah sebab utama dan pertama yang menjadikan banyak ulama menilainya dhoif. Hal ini, telah disangkal oleh Ibnu Adi karena tidak mendapatkan ada hadisnya yang munkar, namun bantahan Ibnu Adi ini tidak serta merta menafikan sifat “dhoif” dari Ahmad bin Abdul-Jabbar, sebab ada saja rawi yang dhoif, tapi riwayatnya tidak sampai pada derajat munkar. Bahkan ucapan Ibnu Adi, bahwa ia tidak memiliki riwayat yang munkar perlu diteliti lagi, karena hadis yang kita bahas ini, mungkin saja akan kita nilai sebagai hadis yang munkar, dan penyebab utamanya adalah Ahmad bin Abdul-Jabbar, sebagaimana dalam penjelasan selanjutnya.
Kesimpulannya: Ahmad bin Abdul-Jabbar ini adalah dhoif dari segi hafalan hadisnya, sehingga tidak heran bila Al-Hafidz Al-Haitsami mengkritik sanad hadis ini dengan keberadaannya.

Dari sini, jelaslah bahwa tambahan lafadz “Rabbi ighfir li” tatkala mengucapkan “aamiin” hadisnya dhoif dari segi sanad. Namun, ada ‘ilal (cacat/sisi kelemahan) lain yang membuat hadis ini munkar/syaadz, dan sama sekali tidak bisa dijadikan hujjah/dalil. Cacat tersebut adalah:

Pertama:
Hadis ini memiliki banyak jalur, dan diantara pusat periwatannya adalah pada Abu Ishaq Al-Sabi’i, namun Murid-Murid Abu Ishaq Al-Sabi’i yang banyak jumlahnya tidaklah menambahkan lafadz “rabbi ighfir li” ini dalam riwayat mereka, Yang menambahkannya hanyalah muridnya yang bernama Abu Bakr Al-Nahsyali, dari jalur Ahmad bin Abdul-Jabbar dari ayahnya, dari Al-Nahsyali, dari Abu ishaq Al-Sabi’i (yaitu sanad yang dhoif diatas). Penjelasannya sbb:

Hadis ini diriwayatkan dari Abu Ishaq Al-Sabi’i dari beberapa jalur:
1.Abu Bakr bin ‘Ayyasy dalam Sunan Nasai (no.932), Ibnu Majah (no.855), Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (no,7959) dan selain mereka.
2.Ma’mar dalam Mushannaf Abdur-Razzaq (no.2633), dan Mu’jam Kabir Thabarani (22/20)
3.Hajjaaj bin Arthoh dalam Musnad Ahmad (18841)
4.Sallaam bin Sulaim dalam Sunan Nasai (no.879) dan selainnya
5.Syarik Al-Qadhi dalam Mu’jam Kabir Thabarani (22/13) dan Sunan Kubra Baihaqi (no.2449), Namun Syariik menyelisihi sanad ini.
6.Zuhair dalam Ghailaniyyaat Abu Bakr Al-Syafi’I (466) dan selainnya
7.Israil bin Yunus dalam Mu’jam Kabir Thabarani (22/21)
8.Hudaij bin Muawiyah dalam Mu’jam Kabir Thabarani (22/21)
9.Yunus bin Abi ishaq dalam Mu’jam Kabir Thabarani (22/21)
10.Zaid bin Abi Aniisah dalam Mu’jam Kabir Thabarani (22/ 22) dan Sunan Daruquthni (no.1271)
11.Al-A’masy dalam Mu’jam Kabir Thabarani (22/ 22), namun Al-A’masy menyatakan bahwa ucapan “aamin” tiga kali, ini merupakan lafadz yang syaadz/munkar.
12.Abdul Hamiid Al-Farraa’ dalam Mu’jam Kabir Thabarani (22/ 22)
13.Abu Zaaidah dalam Mu’jam Kabir Thabarani (22/23)

Tiga belas murid Abu Ishaq ini meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abdul-Jabbaar bin Waa-il, dari Waa-il bin Hujr, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, dengan lafadz doa “aamiin” saja, tanpa menyebutkan “rabbi ighfir li”.
Mereka semuanya menyelisihi murid Abu Ishaq lainnya yaitu Abu Bakr Al-Nahsyali, dari jalur Ahmad bin Abdul-Jabbaar Al-Uthaaridi, dari ayahnya, dari Abu Bakr Al-Nahsyali, dari Abu Ishaq Al-Sabi’i, dari Abdullah Al-Yahshubi, dari Waa-il bin Hujr, dari Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam dengan menyebutkan tambahan doa “Rabbi ighfir li” pada ucapan “aamiin”.

Dari huruf-huruf yang ditebalkan ini kita bisa menilai adanya kesalahan riwayat Abu Bakr Al-Nahsyali (baik kesalahan itu bersumber dari dirinya, atau dari Abdul-Jabbar, ataupun dari Ahmad bin Abdul-Jabbar yang kita sudah nilai dhoif pada pembahasan sebelumnya). Beberapa kesalahan tersebut adalah:
1. Riwayat Abu Bakr Al-Nahsyali menyelisihi 13 riwayat murid Abu Ishaq yang semuanya meriwayatkan hadis ini tanpa redaksi “rabbi ighfirli”.
2. Riwayat Abu Bakr juga menyelisih penyebutan syaikh/guru Abu Ishaq, dimana 13 rawi tersebut menyebutnya “Abdul-Jabbaar bin Waa-il”, sedangkan dalam riwayat Abu Bakr Al-Nahsyali menyebutnya: “Abdullah Al-Yahshubi”.

Pertanyaannya: Kira-kira siapa yang merubah riwayat yang shahih dari Abu Ishaq?? Siapakah yang menambahkan redaksi “Rabbi ighfir li”, dan mengganti nama syaikhnya Abu Ishaq dari “Abdul-Jabbaar bin Waa-il” menjadi “Abdullah Al-Yahshubi” ??
Jawabannya: Adalah satu dari tiga rawi, yaitu
-Abu Bakr Al-Nahsyali sendiri yang memang derajatnya Shoduq (Taqrib: 8001), artinya tidak sampai derajat tsiqah. Shoduq, bisa saja salah dalam meriwayatkan hadis, karena kekuatan hafalan dan periwayatan hadisnya tidak sampai pada derajat tsiqah.
-Abdul-Jabbar Al-Utharidi: ayahnya Ahmad bin Abdul-Jabbar, dinilai Tsiqah oleh Ibnu Hibban dalam Kitab Al-Tsiqaat (8/418).
-Ahmad bin Abdul-Jabbar Al-‘Utharidi: yang kita telah nilai sebagai rawi yang dhoif.
Ketiga-tiganya memiliki kemungkinan untuk merubah redaksi sanad dan matan hadis diatas, namun tuduhan terbesar adalah terletak pada Ahmad bin Abdul-Jabbar karena dialah satu-satunya rawi yang dhoif dalam rangkaian sanad ini.

Kedua:
Selain pusat jalur periwayatan dari Abu Ishaq Al-Sabi’i diatas, hadis ini juga diriwayatkan lewat jalur lain dari Waa-il bin Hujr, yaitu:
Jalur Salamah bin Kahil: dari Hujr bin ‘Anbas, dari Waa-il bin Hujr, tanpa menyebutkan redaksi “Rabbi ighfir li”. Riwayat ini ada dalam Sunan Abi Daud (no.932), Tirmidzi (2/29), Musnad Ahmad (18842) dan selain mereka.
Sanad ini hasan, dan sama riwayatnya dengan riwayat kebanyakan murid Abu Ishaq Al-Sabi’i. Ini semakin mengukuhkan bahwa riwayat dengan tambahan redaksi doa “rabbi ighfir li” diatas adalah Syaadz/ munkar.

NB: Dalam jalur-jalur periwayatan lain tentang hadis ini, sebagian rawi ada yang meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam membaca aamiin dengan suara sirr (berbisik), dan dalam riwayat lain dengan suara jahr (dikeraskan). Yang shahih: bacaan “aamiin” adalah dikeraskan, adapun bacaan sirr maka jalurnya syaadz/munkar, sama halnya dengan tambahan doa “rabbi ighfir li” dalam pembahasan kita ini. Wallaahu a’lam

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*